Home / Kabar Desa / PERINGATAN HARI IBU KE-91 PKK DESA AJIBARANG KULON

PERINGATAN HARI IBU KE-91 PKK DESA AJIBARANG KULON

Senin 23 Desember 2019, PKK Desa Ajibarang Kulon menggelar acara Peringatan hari Ibu yang ke-91 di Gedung Gelora Ajibarang Kulon. Acara dihadiri oleh Kepala Desa Ajibarang Kulon, Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Ajibarang, Ketua Tim Penggerak PKK Desa Ajibarang Kulon, Ibu-Ibu Ketua Tim Penggerak PKK RW 1 – RW 12 dan Ibu-ibu / Bapak-bapak warga desa Ajibarang Kulon.

Susunan Acara :

  1. Pembukaan
  2. Pembacaan Ayat Suci Al Quran
  3. Menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars PKK
  4. Laporan Panitia Penyelenggara
  5. Pembacaan Riwayat hari Ibu dilanjutkan menyanyikan lagu Himne Hari Ibu
  6. Sambutan-sambutan
  7. Doa Penutup
  8. Pembagian Doorprize
  9. Lain-lain

Laporan panitia penyelenggara oleh Tri Agus, terima kasih disampaikan kepada pemerintah desa Ajibarang Kulon yang telah menyelenggarakan tempat beserta sarana untuk memperingati hari Ibu yang ke-91, Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang telah menghadiri untuk mengikuti peringatan hari ibu, terima kasih kepada semua panitia penyelenggara yang telah bekerja keras sehingga acara berjalan dengan lancar. Dan mohon maaf apabila dalam penyelenggaraan masih banyak kesalahan dan kekurangan .

Pembacaan Riwayat hari Ibu oleh Muliyah, Sejarah Hari Ibu 22 Desember. Setiap 22 Desember di Indonesia diperingati sebagai Hari Ibu. Peringatan hari Ibu di negeri ini sebenarnya sudah diterapkan sejak era pemerintahan presiden Sukarno, namun sejarah tanggal 22 Desember yang ditetapkan sebagai hari ibu sebenarnya bermula jauh sebelumnya, peringatan 22 Desember sebagai hari ibu mengacu pada konggres perempuan Indonesia pertama yang digelar tanggal 22 – 25 Desember 1928 atau hanya beberapa pekan setelah konggres pemuda 2 yang menghasilkan Sumpah Pemuda. Dikutip dari buku biografi tokoh konggres perempuan Indonesia pertama tahun 1991 yang ditulis suratmin dan Sri Sujiatiningsih. konggres tersebut dilangsungkan di Jogjakarta tepatnya di dalem Joyodipura. Gedeung itu digunakan sebagai kantor pelestarian sejarah dan nilai tradisional yang terletak di jalan brijen Katamso. Konggres perempuan Indonesia pertama pada masa pemerintahan kolonial belanda di ikuti oleh tidak kurang 600 orang dari perhimpunan wanita, dari berbagai latar belakang, suku, agama, pekerjaan dan usia. Susarbrekdum dalam buku konggres perempuan pertama tahun 2007 mencatat sejumlah organisasi perempuan yang terlibat antara lain Wanita Utomo, Putri Indonesia, Wanita Katolik, Asiyiyah, Wanita Mulyo, Darmo Laksmi, Wanita Taman Siswa juga sayap perempuan. Dan berbagai organisasi pergerakan seperti serikat islam, jong java, jong islami dan lain-lain. Selain itu para perwakilan perhimpunan partai politik maupun organisasi pemuda juga ikut dalam konggres perempuan ini, termasuk wakil dari Budi Utomo, Serikat Islam, Muhammadiyah, Partai Nasional Indonesia. Kesetaraan perempuan dalam konggres perempuan pertama dipimpin oleh Raden Ajeng Sukonto yang di dampingi oleh Nyi Hajar Dewantoro dan Sujatin. Dalam sambutannya dinukil dari buku karya Susarblekdrum, Raden Ajeng Sukonto mengatakan jaman sekarang adalah jaman kemajuan oleh karena itu jaman ini sudah waktunya mengangkat derajat kaum perempuan agar kita tidak terpaksa duduk didapur saja, kecuali nomer satu di dapur, kita harus turut memikirkan pandangan kaum laki-laki, sebab sudah menjadi keyakinan kita bahwa laki-laki dan perempuan mesti berjalan bersama-sama dalam kehidupan umum. Artinya lanjut Raden Ajeng Sukonto perempuan tidak menjadi laki-laki, perempuan tetap perempuan, perempuan derajatnya harus sama dengan laki-laki jangan sampai direndahkan seperti jaman dahulu. Selain diisi pidato orasi kesetaraan emansipasi wanita, dalam konggres juga dibentuk gabungan organisasi wanita dengan nama Perikatan Perempuan Indonesia (PPI). Slamet Muljana dalam buku kesadaran nasional dari kolonialisme sampai kemerdekaan tahun 2008, memaparkan dua tahun setelah konggres pertama itu perempuan Indonesia menyatakan gerakan wanita merupakan bagian dari pergerakan nasional. Dengan kata lain perempuan wajib ikut memperjuangkan harkat, martabat nusa dan bangsa. Konggres Perempuan Indonesia satu tanggal 22 Desember 1928 inilah yang menjadi acuan pemerintah republik Indonesia menetapkan sebagai Hari Ibu. Diresmikan oleh Presiden Sukarno melalui Dekrit Presiden RI nomor 316 tahun 1953.

Dalam sambutan Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Ajibarang diwakili oleh Hj. Roqoyah, menyampaikan ucapan selamat Hari Ibu kepada PKK Desa Ajibarang Kulon. Selain itu juga mengajak untuk bersikap bijak dalam menggunakan HP agar bisa bermanfaat dan juga menghindari efek negatif dari HP. Mengajak Ibu-ibu untuk mengatur waktu, Jam 18.00 – 21.00 WIB hp disimpan, waktu itu untuk belajar, diskusi bersama keluarga serta memperat jalinan keluarga.

Sementara sambutan Kepala Desa Ajibarang Kulon Solikhin, kepada Ibu-ibu dipersilahkan untuk penyelenggarakan hari Ibu ini sebagai momen untuk hiburan, untuk silaturahmi, untuk mempererat kekeluargaan antara anggota PKK, bekerja bersama melangkah kedepan memajukan desa Ajibarang Kulon.

(Fuad R/FR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *